Filosofi " Lembar Kemilau Pencapaian Jokowi"




Filosofi “lembar kemilau pencapaian jokowi”
Karya : Rio Perdana


    Bismillahirrahmanirrahim, 20 oktober 2014 adalah saksi sejarah. Dimana langit mulai membuka tabir cahaya terang.  Mengisaratkan bahwa genderang perang kini telah usai.  Senyum haru membias pelangi tak lekas mewarnai sejuta umat.  Dikala sumpah pelantikan dengan tegas diucap. Dialah yang dinanti, pemimpin baru berjiwa tulus dan berani Ir. Joko Widodo. Sejuta harap seketika tertanam, berharap indahnya perubahan yang senantiasa diimpikan.
     Tak terasa dua tahun terlewati. Tapak tilas perjuangan tak lekas menjadi sajian. Dengan satu kata sebagai tonggak pergerakan, ’kerja,kerja,dan kerja’. Lantas, apa yang sudah kita rasakan sampai saat ini. Sudahkah mimpi tentang perubahan itu terwujud. Sudahkah bangsa ini mendapat apa yang dinginkan. Mereka yang terkungkung oleh deru debu hitam tentu berkata demikian. “Omong kosong, mana buktinya? kerja atau bagi-bagi sepeda.”
      Tak bisa dipungkiri, era kepemimpinan Jokowi tak lepas dari berbagai macam isu. Dari isu yang merujuk pada sistem pemerintahan atau pada diri Jokowi pribadi. Sebagai contoh nyata adalah HP Vitell yang menjadi viral karena ada logo palu arit. Dalam kasus ini seakan Jokowi lah yang dituding sebagai biang utama. Dengan mulut yang mengumpat, mereka yang terkungkung seakan menyebar keras ujaran kebencian lewat dunia maya.
      Pohon kelapa yang menggeleng tertiup angin seolah menjadi pertanda, betapa terherannya Ibu pertiwi. Sekumpulan orang yang terkungkung itu, apa mereka bodoh, apa mereka tak tau. Cumi- cumi terseka tergulung ombak, sekarat terbungkus tinta hitam menjadi jawaban. Mereka yang terkungkung mengubur sanubari putih dengan hati yang beranak hitam.  Sekarat, penuh keegoisan dan bertindak tanpa pandang.
        Benthera langit dinggu yang merebah hitam seolah melemparkan pertanyaan geram. Mega proyek dengan pemerataan pembangunan, apa itu bukan pencapaian. Perbaikan infrastuktur dari kota hingga plosok, apa itu bukan kemajuan. Tidakkah kau lihat jalanan dan jembatan itu berdiri membentang. Mereka yang terkungkung tentu menjawab,” Apa yang kemajuan, macet masih merajalela. Omong kosong”.
       Hengkara tanah yang tertunduk lesu tentu tak terima. Produksi gabah kering giling (GKG) yang meningkat apa itu bukan pencapaian. Bisa dilihat bahwa produksi GKG mencapai 75,55 juta ton pada tahun 2015 dan 79,1 juta ton tahun 2016. Sekali lagi, apa itu bukan pencapaian.  Sebuah hal yang fantastik ketika indonesia untuk pertama kalinya menjadi swasembada beras setelah 32 tahun. Lantas, beginilah jawaban yang terkungkung. “Swasembada apanya, nyatanya beras untuk kebutuhan hotel dan kafe masih inpor. Omong kosong”.
       Gemulai rumput ilalang seolah berubah tegang. Hey yang terkungkung dan berhati hitam. Apakah kau tak tau betapa indahnya senyum mereka yang terbebas dari rasa sakit. KIS (Kartu indonesia sehat), telah membantu mereka yang kurang mampu. Bisa dilihat kartu ini sangat bermanfaat. Bisa digunakan dimana saja, baik di klinik  atau rumah sakit manapun di Indonesia. Prosedurnya juga terbilang baik, apa ini bukan pencapaian. Sudah tahu kan, bagaimana yang terkungkung menjawab. “Sudah hanya itu, nyatanya masih ada pengguna layanan kesehatan yang ditolak rumah sakit. Omong kosong.”
       Dia yang dulu kosong santar berteriak. Aku kini tak lagi sepi karena sendiri menjadi bangku kosong. Dulu saat belum ada KIP (Kartu indonesia pintar), banyak yang harus putus sekolah. Tak bisa dipungkiri, satu hal yang menjadi kendala adalah dana. Namun, segalanya telah berubah. Yang tak mampu kini bisa bersekolah. Bisa dilihat taraf pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan. Apa ini bukan sebuah pencapaian. “Omong kosong, peningkatan taraf pendidikan dari mana. Tidakkah kau lihat masih banyak pelajar yang tak tahu etika dan suka berhura- hura.”
         Lihatlah aku yang sekarang bertambah kuat, rupiah bercuap menjelaskan. Tax amnesty  menjadi senjata pamungkas di era kepemimpinan Jokowi untuk menayeimbangkan perekonomian bangsa. Program  ini tentu sangat menarik bagi para wajib pajak. Dihitung pendapatan negara dari program ini mencapai Rp 135 triliun. Terdiri dari uang tebusan Rp 114 triliun, pembayaran bukti permulaan Rp 1,75 triliun, dan pembayaran tunggakan 18,6 triliun. Coba kau buka mata hatimu, apa itu bukan pencapaian. “Pencapaian dari mana, orang bersalah kok diampuni. Katanya hukum harus ditegakkan. Omong kosong.” Lagak congkak yang terkungkung membuat diam.
       Batuan cadas keluar kepermukaan, condong mengkerucut melempar paparan. Tidak kah kau lihat kebijakan membabat habis pungli. Lihatlah dengan jelas, betapa seriusnya Jokowi membumi hanguskan korupsi di negeri ini. Kebijakan ini tentu membuat seluruh aparatur negara terketuk dan berbuat jujur. Memang ada kebijakan anti rasuah yang nominal Rp 10.000 sampai ditindak lanjuti. Apa itu bukan pencapaian, apa itu bukan kemajuan. “ Itu kau maksud pencapaian? kok masih ada koruptor yang merugikan negara sampai triliunan? omong kosong.” Yang terkungkung rebah membantah.
        Begitulah terus, dia yang terkungkung dengan kata pamungkasnya ‘Omong kosong.’ Siapapun yang bertanya dengan mudah ia bantah. Bahkan jikalau bumi menggertak, pastilah ia congkak akan melawan. Hitam selalu beranggapan dia menang. Dengan keegoisan, segala cara ia gunakan. Meronta, mencela, dan memarjinalkan segala kebenaran, menguburkan putih dibawah hitam.
      Sebuah filosofi tentang satu titik hitam diatas lembar kertas putih. Terlihat jelas membaurkan pandang, yang putih tak lagi dipandang. Itulah paparan nyata bagi yang terkungkung itu. Dia yang hanya melihat dari satu sudut pandang saja, mengabaikan yang benar karena urusan hati yang menuntut keegoisan.
       Biarkan aku menjadi penengah. Kau yang terkungkung rebahlah disana dan cukup kau dengarkan saja. Jika kau berkata bahwa Jokowi hanya berbagi sepada, tidakkah kau lihat betapa bahagianya mereka yang menerima. Jika kau bisa berkata semua pencapaian ini omong kosong, apa yang sudah kau berikan pada negeri ini. Apa hanya omong kosongmu itu, apa hanya umpatanmu itu. Jika kau mencari sesuatu yang instan, tidakkah kau berpikir betapa kelirunya dirimu. Lihatlah pesulap yang mengeluarkan merpati dari sebuah topi, apa itu instan. Butuh waktu dan proses belajar panjang untuk melakukannya. Begitu pula dengan negara yang maju, butuh waktu dan usaha keras untuk mewujudkannya. Jangan kau lihat segala sesuatu dari hasil, tapi proses yang dijalaninya.
      Untuk para pengumpat, apakah kau mencari pemimpin yang sempurna. Ketahuilah, segala sesuatu yang ada di dunia ini tiada yang sempurna. Seindah-indahnya bunga raflesia masih menyimpan bau busuk.  Semanis-manisnya buah pasti akan sepah pada akhirnya. Jikalau memang ada pemimpin yang sempurna dan bisa segalanya, maka cukuplah dunia ini dipimpin satu orang saja.  Buka mata hatimu, jangan memandang karena satu alasan kebencian, lihatlah segala kebaikan itu.
       Untuk kita bangsa dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Mari kita luruskan jalan pikiran kita, jangan terpengaruh dengan umpatan dan ujaran kebencian itu. Mari kita ubah filosofi lembar putih  menjadi sebuah lembar kemilau. Sebuah lembar untuk pencapaian Jokowi. Sebuah lembar berbinar sinar yang tak mungkin ternoda oleh kucuran tinta hitam. Mari kita beri kesempatan untuk sebuah pencapaian yang lebih gemilang.
       Dan untukmu sang pemimpin Ir. Joko Widodo. Terima kasih sudah memberikan sumbangsihmu pada negeri ini. Tetaplah berjuang ke depan, jangan kau hiraukan umpatan mereka yang terkungkung itu. Ketahuilah, masih ada kami yang mengerti akan arti putih dan betapa tulusnya perjuanganmu.
#JokowiuntukIndonesia
Sumber:
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-3559405/ini-capaian-positif-sektor-pertanian-jokowi-jk?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10% 2C345715786
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3448448/ri-impor-beras-di-awal-tahun-2017-paling-banyak-dari-pakistan?_e_pi_=7%2 CPAGE_ID10%2C4819895861
https://www.cermati.com/artikel/kartu-indonesia-sehat-pengertian-dan-manfaat-yang-diberikan?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C9023282658
https://nasional.sindonews.com/read/1149652/15/berbagai-permasalahan-bidang-kesehatan-di-dua-tahun-jokowi-jk-1477284071?_e_pi_=7 %2CPAGE_ID10%2C6791567152
http://hukum.rmol.co/read/2017/05/26/292890/Pemberantasan-Korupsi-Era-Jokowi-Melemah,-Kekuatan-Civil-Society-nya-Juga-Melempem-
http://m.liputan6.com/bisnis/read/2906371/resmi-berakhir-di-31-maret-ini-hasil-tax-amnesty
https://www.youtube.com/watch?v=6fDk0LLj7Z0&t=85s


Comments

Popular posts from this blog

Words of Journey #1 ( My Age was 20)

Phoem #1 (Kapal Tak Berhaluan)