Short Story #1 (Bingkai lentera lembah manise)


Bingkai lentera lembah manise
karya :Rio perdana

Ada yang mengatakan demikian, siapa yang berani merusak, menginjak, memetik, bahkan menyentuh. Dia akan tertimpa bala, darinya Rajah simalahantupang arwah penunggu hutan. Bahkan konon, jikalau ada yang memekikkan hatinya dan menatap kearah hutan. Sungguh, Ia sudah dikutuk menjadi orang yang nista sampai tujuh turunannya kelak. Burung gagak pekik akan terbang mengikuti sebagai petanda. Menjelma bayangan hitam yang menyampar nirwana. Melibas habis nyawa-nyawa yang dipenuhi dosa. Langla buwana orang yang disanjung sebagai Raja berkata,wahai orang-orangku serulah anak cucumu. Jangan sentuh apapun yang ada disana, semuanya terkutuk. Katanya berulang tandanya keras sebagai peringatan.

Lembah manise, begitulah kiranya. Sebutan untuk tempat berdirinya hutan yang ditakuti dan senantiasa diagungkan. Semua berkata sama, daun-daun matoa melembangkan putik dan meyemarakan rayun-rayun do'a. Hutan pareke, hutan yang berarti surga. Tempat singgah Mahatala Raja dari segala Raja. Dewa Chaimbo, dia yang diagungkan. Menjelma air, bumi, langit, dan seluruh alam semesta. Tempat ruh-ruh nenek moyang mempertanggung jawabkan amal ibadatnya. Mereka yang nista akan digulung perihnya duri akar cempaka. Dan mereka yang sebaliknya akan mengecap manisnya matoa.

Semua memandang dengan cinta, berharap cahaya dari Matera surya dan lukisan indah dari Bentera langit dinggu. Aku, Bomele, Tundung waringin, dan Kasian cempaka pun berharap demikian. Lentera kecil yang berambisi penuh mimpi, ingin menjadi penghuni singgasana hutan pareke. Dikala Yonggoway sang pencabut nyawa datang dan Hengkara tanah yang siap melumat raga tanpa nyawa.

Mereka berpikir kami gila, memandang pepohonan hutan pareke yang menjulang bak anak tangga. Berhayal melintasi cakrawala disaat Matera surya hendak memejamkan mata. Ingin kami empat lentera kecil yang dianggap gila. Mengenyam manisnya matoa, mengalungkan indahnya anggrek merah langka, menginjak halusnya rumput teki, dan bersandar tenang dibatang angsana. Namun sayang sekarang bukan aku, kau atau mereka yang tak tau. Hanya mereka yang diperbolehkan bisa memasuki halayak yang kami anggap surga. Mereka yang ditangguhkan memberi persembahan,serta penghormatan pada ruh-ruh nenek moyang.

Sitohola...! ! ! seru Mama memanggil adikku "ada apa ini ?". Merangkul batang tubuh yang masih rapuh. Sitohola hanya merenung diam dipenuhi kelabilan. Lalu bagaimana denganku, kaki ini gemetar mendengar petir yang menyambar-nyambar. Tepat ditengah Bentera langit dinggu yang menghitam. Bintang-bintang hilang daya tak lagi mampu bersinar. Merpati Abulus penghuni hutan pareke mendengkur keras. Entah ia tertidur atau apa. Bentera langit nampak sakit. Dia menangis tak terkira dengan air matanya yang menjelma hujan. Semua takut keheranan. Lembah manise dan bukit Bale berguncang kegaduhan. Begitupun kami yang terbangun dari tidur tenang.
***
Setelahnya dikala esok datang. Matera surya terbangun terang, menyapu tangisan Bentera langit tadi malam. Alunan jimbe menyeruak diatas lembah manise, di bukit Bale tepatnya. Semua menari dan berbaur dengan kebahagiaan, menyongsong cinta dengan penghelatan upacara. Pohon dan rerumputan nampak ikut bergoyang. Hutan pareke bergelegar dengan cinta dan kasih sayang. Lansia, parubaya, wanita dan pria tak terkecuali balita ikut merasakan suka cita.
Namun entah mengapa. Yagez tiba-tiba terhenti. Bahagia pun menjelma keheranan. Melihat sekelompok orang yang asing dipandang. Beberapa bertanya siapa, beberapa juga bertanya ada apa. Langla buwana berkata tenang. Namun semua berkecambuk tak terkendali. Bambu runcing, tombak, tulup-tulup beracun, busur panah, kini beralih tangan. Ranah wajah geram penuh kemarahan diantara mereka yang berbadan kekar. Kecil sepertiku tak ada guna. Kelabilan hanyalah yang ada. Langla buwana sekali lagi berkata tenang.
"Mengapa kita harus tenang ? lihatlah mereka menuju hutan paleke," Yosepe lantang.
"Tenang mereka hanya pendatang, bukan pengacau," Langla buwana mendesak keras.
"Ayo kita datangi mereka,”Langla buwana kembali bertutur.
Sebagian penduduk bukit Bale menuruni ranah lembah manise, lalu mendatangi sekelompok pendatang. Anak-anak dan wanita tetap tinggal. Langla buwana yang disanjung sebagai Raja memimpin di depan. Senjata ala kadarnya digenggam erat saraya berjaga jaga. Terpikir dalam benakku, “Apa iya ? Hutan yang dianggap surga akan sirna.” Apakah Mahatala Raja, Dewa Chaimbo akan diam saja. Sungguh, aku berharap para pendatang yang berani menyentuh hutan pareke dikutuk. Semua takut, sangat takut. Berharap tidak pernah terjadi, ingin kami para pendatang itu pergi dan tak pernah kembali.
Aku dan beberapa penduduk yang tinggal melihatnya dari atas bukit Bale. Anggrek merah langka menjelma kalung permata. Rerumputan teki diinjak kaki-kaki durjana. Manisnya buah matoa dipetik dari pohonnya. Tangis pepohonan Hutan Pareke seketika berubah getah, dikala besi-besi menyerupai paku ditancapkan padanya. Langla buwana beserta penduduk lainnya terlambat. Sungguh halayak yang diagungkan bak sampah yang dibuang. Dijamah seenaknya tanpa aturan. Bentera langit dinggu nampak kecewa melempar pandang. Mereka biadab, ada yang berkata demikian. Hati kami sakit, sangat sakit.

Darrrr ... suara letusan membusungkan seluruh isi lembah. Perang pun pecah seketika. Para pendatang melepas pelatuk laras panjang yang dipegang. Bambu runcing, tombak, tulup-­tulup beracun, dan busur panah kini berubah haluan. Melembang ke arah pendatang yang dianggap nista dan bertingkah semaunya. Semua penghuni lembah terperanjat. Ruh-ruh nenek moyang seperti mengeliyak, mendengar rintihan mereka yang diambang kesakitan. Rerumputan luluh lantah terkena injakan para pelakon perang. Semua hilang arah. Berlarian tak terkira menghindari hujatan senjata. Hutan pareke kini dicerca kepedihan. Amis darah bergeliat dengan getah pohon yang tumpah, emosi melibas habis aroma cinta menjadi dendam yang tak terkira.

Kembali lagi, kini awan hitam bergulat dengan petir yang menyampar-nyampar. Menjadi tanda kegeraman dan kekecewaan Bentera langit dinggu. Hutan yang dipelihara dengan isak tangisnya, kini porak-poranda. Sekali lagi Ia sangat sedih. Seketika itu air matanya pun turun menjelma hujan yang teramat deras. Mungkin ini adalah awal kutukan yang akan datang. Awal dari kemarahan Dewa Chaimbo melihat jelmaanya diluluh lantahkan. Awal dari kekecewaan ruh-ruh nenek moyang, melihat surganya dirusak habis-habisan.

Air mata Bentera langit dinggu semakin deras dan tak bisa dibendung dengan rayun-­rayun do'a Langla buwana. Perang berakhir menyisihkan beberapa nyawa. Menyulut api dendam yang mengeriak keras, entah sampai kapan. Sujud ampun terlihat dari beberapa orang Arso memohon keringanan. Langla buwana yang disanjung sebagai Raja berkata, "Ayo kita tinggalkan lembah Manise, kita sudah dikutuk." Cepat-cepat, kepanikan, kemarahan, serta tangisan bercampur baur. Mengiringi langkah penuh keputusasaan
Kami empat lentera kecil memandang kecewa. Surga yang senantiasa kami pandang dan khayalkan kini hilang ditelan kepasrahan. Kami dan seluruh orang Arso pedalaman bukit bale kini pergi meninggalkan lembah manise. Meninggalkan halayak penuh cinta dihati. Semua gagap bertanya,"kemana kita harus pergi".
"kita akan berjalan ke utara dan melintasi aliran sungai Kumbe", tegas Langla buwana.
"Bukankah itu berbahaya, kenapa kita harus kesana?," tanya Ayahku Imbe sarayo.
"Kita harus tetap kesana, itulah jalan menghindari kutukan,'' Langla buwana bersikukuh.
"Mengapa kita harus pergi, mengapa kita tidak kembali dan menata hutan pareke hidup lagi. Lebih baik berusaha dengan pengorbanan dari pada lari dalam kepasrahan. Ayo kembali," pinta ayahku.
Semua diam, Langla buwana juga diam. Semua melanjutkan perjalanan. Berpikir omongan ayahku hanya angin lalu yang berisi kesesatan".

Beberapa hari terlampaui, dikala kaki ini sudah menjamah padang haluan yang gersang. Matera surya menyinari perjalanan kami dengan terik penuh kekecewaan. Sebagian rombongan pun mulai lemas, begitupun aku. Yajoh waringin ibu dari sahabatku Tundung waringin, terlihat merintih kesakitan. Kakinya memar, tak sanggupnya menahan gejolak sakit bebatuan terjal. Darinya Hengkara tanah yang tengah murka.

Sungai Kumbe yang dinanti sedemikian nampak sudah terlihat. Seperti yang­ dikisahkan. Rakit-rakit terbengkalai, menjadi saksi sisa perjuangan, suku pedalaman yang kiranya hendak merantau. Namun na’as, konon kabar mereka hilang dan tak pernah kembali pulang. Beberapa dugaan pun tersirat, mereka hilang ditelan liang sungai Kumbe atau hidup tenang diluar sana. Ada juga pilihan yang kiranya menjadi takdir kami nanti. Diam tak berkutik menerima kutukan, hangus dalam petualangan atau hidup dalam ketenangan. Perlahan namun pasti kami sekelompok rerombongan menaiki rakit yang lapuk karena waktu itu.

Lihat-lihatlah disana, ada yang berkata demikian. Pandangan mata sontak menyorot ke atas. Namun bukan untuk melihat lukisan Bentera langit dinggu. Sekumpulan gagak pekik terbang diatas kami. Menutupi sinar terik Matera surya yang membakar. Inilah petanda yang sudah dijelaskan. "Semua sudah dikutuk menjadi orang yang nista”, ujar Langla buwana saraya menggelengkan kepala. Aku, Bomele, Tundung waringin, dan Kasian cempaka berpikir sama. Semua sia-sia. Halayak yang selalu dipandang dengan cinta, kini berubah sirna. Pikirku, surga sudah tak mungkin bisa dirasa. Seketika setelah kami percaya, kami sudah dikutuk menjadi orang yang nista.

Belum sampai disini, kutukan semakin menjadi-jadi. Petanda itu benar, sungai Kumbe seketika berubah geram. Guratan wajahnya menjelma gelombang. Mengombang-ambing rakit yang penuh kenistaan. Do'a-do'a memohon ampunan berhenti entah kemana. Kami tak mengerti, Mahatala Dewa Chaimbo mendengar atau tidak. Sungai Kumbe seperti mengepalkan tangan, menghantam rakit yang dipenuhi kenistaan. Ada yang jatuh karam, ada yang berteriak lantang, dan ada yang menangis keras merayu pengampunan. Namun apalah daya., amukan sungai Kumbe melibas segalanya. Rakit lapuk kini benar-benar berubah puing. Riak sungai Kumbe menjelma buih. Mengandaskan raga penuh dosa entah kemana.
***
Kadang kalanya nasib dan takdir tak bisa disangka. Entah itu baik dan tidaknya, tak bisa menjadi prasangka. Mata kusutku berlinang terbuka, dengan mulut bergeming menggigil kedinginan. Aku terselamatkan dengan luka memar merajai badan. Dikala hanyut menghantam kerasnya bebatuan. Entah ini kebetulan atau takdir yang dituliskan. Bomele, Tundung waringin, dan Kasian cempaka tepat berjejer disampingku. Merintih kesakitan disertai mata yang masih samar menelaah cahaya dari Matera surya.

Empat lentera kecil dari pedalaman lembah manise. Kini hidup dalam kesendirian dihantui ketakutan. Tiada lagi orang tua, kerabat, atau saudara. Menjadi penerus petualangan penuh penderitaan. Menjadi sisa puing-puing kutukan. Berjalan entah kemana, tak pernah terpikir dalam benak. “Bukan salah kami,” bantahku menatap Bentera langit dinggu. Berharap bayangan dari sisa kutukan ini hilang. Dedaunan dan tumbuhan kecil menjadi makanan, walau pahit dilidah. Berharap semua cepat berlalu, hingga kami menemukan tempat tinggal baru.

"Harus kemana lagi kita ?", celetuk Kasian cempaka.
"Aku sudah lelah, punggungku rasanya ingin menelengkup". Bormele keras mengeluh.
Aku diam dan tercengang. Namun ,bukan karena keluhan dari temanku. Lihatlah disana, nampak kehijauan hutan membentang. Sekilas sama seperti hutan pareke, bahkan lebih luas.

Tidak sama seperti hutan pareke, kaki ini cepat melangkah tanpa rasa takut. Naluri kelaparan memanjat cepat pepohonan matoa yang tinggi terpampang. Na’as pikirku mengarang, tersulut panasnya api dendam. Mengapa datang orang seperti itu lagi. "Bahaya", pikirku melihat orang itu menepuk pundak Kasian cempaka dan Tundung waringin yang duduk dibawah. Tercengang aku hilang daya. Aku takut, sangat takut. Namun tidak demikian, kulihat tangannya menyodorkan matoa. Berkata padaku untuk turun. Ia menepuk pundak kami dan pintanya halus, panggil aku papa Obas.
***
Papa Obas, kulihat kulitnya putih berbeda dengan kami. Kini kami empat lentera tinggal bersamanya. Dengan nafasnya yang terengah-engah menunjukan usia diatas parubaya. Mengajari kami tentang apa arti alam. Setiap harinya setelah mengisi perut yang mengkerutu. Serunya pada kami, kala itu mengajak bercocok tanam. Menelaah ladang gundul menjadi keindahan. Sahdan ajaib memang, warna-warni bunga mencuat dari biji yang mulanya dipendam. Mengapa demikian, sungguh aku tak tau. Tuturnya, beginilah memang caranya.

Begitulah, kebiasaan itu berlanjut hingga kami tumbuh dewasa. Tidak lagi menjadi lentera kecil yang dipenuhi kelabilan. Papa Obas kini benar-benar terlihat tua. Kami berpikir kini kami mengerti, apa hal yang harus dilakukan. Hingga akhirnya terpikir dalam benakku mengarungi derai masa lalu, tentang apa yang pernah dikatakan ayahku. "Mengapa kita harus pasrah dan berlari. Mengapa kita tidak kembali dan menata hutan pareke hidup lagi". Benar memang benar, inilah akhir dari petualangan. Dimana kami harus kembali menanam sebuah pengalaman yang kami dapatkan.

Pada akhirnya, inilah jalan yang menjadi satu-satunya pilihan. Berpisah dengannya, pria yang dulunya kami anggap asing dan nista seperti para pendatang. Luluh tuturnya merelakan, "berhati-hatilah kalian". Bibit-bibit siap tanam seperti angsana, cempaka, matoa, johar, akasia, dan pinang menjadi bekal, bersama teman baru yang berjalan mengiringi. Inginnya Membantu ranah pareke hidup kembali. Menjadi ranah surga yang penuh dengan cinta. Menghilangkan aroma kutukan dan kenistaan yang terlanjur merebah adanya.

Terauma tentu masih melekat dihati, mengingat kekejaman sungai Kumbe yang menelan sanak saudara kami. Benar, inilah arti petualangan. Kesalahan besar takkan mungkin terulang. Setelahnya melewati jalan baru, padang haluan yang panjang dan lapang. Ranah yang dipenuhi kutukan dan senantiasa diagungkan mulai tampak. Nampak sama, masih porak-poranda. Melekat keras surga yang berubah neraka. Masih dalam kenangan, cerita akan kutukan terbayang. Kami empat lentera masih takut. Namun apa daya, inilah satu-satunya jalan untuk menebus semua kesalahan.

Angsana sekilas nampak ceria, ketika akarnya menilak Hengkara tanah bekas surga. Cempaka, matoa, johar, akasia, dan pinang juga merasa demikian. Sedikit demi sedikit aroma cinta mulai tertanam. Harap kami agar ranah pareke hidup dan menjelma surga lagi. Hari demi hari pun kami lewati. Dengan terus menanam dan merawat tanaman. Menyiram dan menyiram dengan sisa air hujan. Berharap rintih tangisan dari Bentera langit dinggu dan kehidupan baru dari Dewa yang senantiasa diagungkan.

Hanyut tak dapat dirasa, bulan, tahun, nian terlewati. Angsana, cempaka, matoa,  johar, akasia dan pinang kini tumbuh dewasa. Hakikat kutukan yang melekat perlahan menghilang. Jiwa kami perlahan tenang. Setidaknya inilah hasil petualangan yang bisa ditanam. Lembah manise perlahan kembali menghijau. Bentera langit dinggu seperti kembali menemukan kebahagiaan. Puluhan tahun terlewati, ranah pareke kini lahir kembali. Daun­-daun matoa kembali melembangkan rayun-rayun do'a. Dengan senyum mereka yang memandang dan mereka para pendatang yang kini kami anggap kawan.

Bukan hanya lembah manise, ranah pareke kini merembah hingga bukit Bale. Benar, mungkin inilah yang diinginkan Dewa beserta penghuni hutan lainnya. Surga alam bukan lagi impian yang samar. Aku, Bomele, Tundung waringin, dan Kasian Cempaka bisa bernafas lega. Tanyaku, "apakah mimpi kami dikala masih kecil bisa terwujud". Pintaku selalu, berharap semoga saja bisa. Yonggoway sang pencabut nyawa seperti sudah memantau. Bersama dengan Hengkara tanah yang tengah menanti, raga tanpa nyawa yang akan dilumatnya.

Mungkin inilah akhir dari kegelapan. Akhir dari bayangan kutukan yang mulai hilang. Akhir dari perjuangan yang melelahkan. Sebuah akhir dari takdir yang sudah dituliskan, yaitu kami yang kini sudah diambang kematian. Namun lihatlah sekarang. Angsana, cempaka, johar, akasia, matoa dan pinang. Nampak senang berdiri kokoh membentang. Ranah pareke tak hanya menjamah lembah      manise. Sekali lagi lihatlah, pepohonan kini merajai bukit bale yang dulunya gersang bak padang pasir. Menjelma sebuah bingkai lentera yang indah penuh cinta. Menjadi bingkai dikala kunang-kunang menjelma cahaya. Cahaya yang bersinar menyampar kegelapan di tanah pareke ketika malam. Sebuah akhir dari pengajaran. Alam adalah untuk dijaga, dicintai, dipelajari, dan dilestarikan. Bukan untuk dihancurkan dengan kebodohan dan keegoisan yang teramat sangat.

# jangan lupa follow dan komentarnya ya. Jomblo tulen part 2 akan update minggu depan :)
salam zombloo

Comments

  1. Baguss ceritanya, ☺mungkin ide" baru kamu lainnya bisa dkembangin dlm bentuk novel...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe thanks lak buat masukan ya. kakak sangat membantu :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Words of Journey #1 ( My Age was 20)

Filosofi " Lembar Kemilau Pencapaian Jokowi"

Phoem #1 (Kapal Tak Berhaluan)