Salam pembuka " Jomblo tulen"



Part 1: Salam pembuka jomblo tulen
      Oreo,Coro,Bento, Bendoyo,Kemplo,dan Sontoloyo. Begitulah mereka memberiku nama kedua, setelah nama pertamaku Rio. Nama-nama kiasan itu tak lekang berubah seiring berkembangnya zaman. Jomblo, begitulah nama kiasan itu berubah sekarang. Siapa yang tak mengerti nama ini. Dari kakek-nenek,om-tante,ayah-bunda,remaja, bahkan mungkin balita, semua tau itu sebutan untuk siapa. Benar, itulah sebutan untukku. Si jelata yang menderita karena cinta(emot ngguyu). Aku tak tau sebutan ini kapan akan berakhir. Entah itu besok,lusa,bulan depan, tahun depan,abad depan, atau mungkin sekarang 😊.

     Soal cinta aku payah. Aku tak tau kapan harus memulai atau kapan harus mengakhiri. Pernah suatu ketika aku merasakan cinta pertama, bisa dibilang cinta Monyet atau cinta Ayam juga boleh. Saat itu wajahku masih sangat polos dan begitu lugu. Tepat aku baru masuk SMP memang.

        Suatu hari dimana aku bermain dirumah keponakanku Shella.
“Shell, cewek disekolahmu cantik-cantik nggak ?,” Tanyaku pada Shella yang sudah berbeda sekolah saat kami tamat SD.
“Kok tanya begitu, memangnya ada apa kak?,”Wajah Shella berparas keheranan, menampakan kebiasaan seorang wanita yang pura-pura tidak peka.
“Masak nggak tau sih Shell, kita sekarang kan udah besar jadi butuh pacar?,”Cetusku menepis sikap tidak peka Shella.

“Oalah, cantik-cantik kok Kak, mau tak kenalin?,” Shella menyeringai.
“Mau banget Shell,” Sungguh aku sangat antusias.

      Lantas Shella langsung berdiri dari kursi tempatnya duduk. Langkahnya pergi meninggalkanku. Aku bingung,  katanya mau ngenalin,eh malah ninggalin. Sepi pun menyerumai, jam dinding seperti jantung yang berdetak mentertawakanku. Satu-satunya hal yang menyuarakan suara adalah itu. Mataku pun beralih menatap langit-langit setelah apa yang ada dihadapanku kosong. Aku seperti khilaf mengungkapkan hal itu pada Shella. Yah,kini aku merasa malu. Berpikir antara Shella mau mengenalkanku dengan temannya atau ada hal lain yang ingin diungkapkannya.

“Kak,” Shella menepuk pundakku dari belakang.
“Kamu tadi kemana sih Shell ?,”Jawabku ketus.
“Lahh, tadi katanya pengen dikenalin, gimana sih ,”
“Hah? beneran? orangnya ada disini dong?,” Aku heran seketika menunjukan kebodohanku.“
“ Ya enggak lah’’,Wajah Shella bermasam kesal disertai tangannya yang menepuk dahi.

      Lagi-lagi aku bingung dengan keponakanku yang satu ini. “Dikenalin itu nggak harus ada orangnya disini !,” Tegas Shella. Tangannya pun menyodorkanku secuil kertas yang sudah bertuliskan sebuah nomor dengan nama diatasnya “Petri”. Sontak, secepat mungkin aku menyambarnya.”Haha dari namanya sih, pasti cantik . Sama seperti dalam dongeng “Petri tidur,”pikiran ini mulai berandai.  “Terus anaknya gimana Shell ?”, berharap Shella menjawab seperti apa yang aku pikirkan.

        Belum ada tiga detik kulayangkan pertanyaan, mulut Shella mulai bercuap. Bah jawabannya cepat sekali. Saking cepatnya terlintas mulut Shella seperti kenalpot motoGp yang berdengung. Mbrum mbrummm..... start !!! Shella menancapkan gas mulutnya. Petri itu cantik,pinter,baik hati,tidak sombong,suka menolong ,rajin menabung dan giat bekerja. Matanya tajam seperti orang arab, alisnya nanggal sepisan, giginya rapi gingsul satu, tak lupa Petri juga punya lesung pipi. Pokoknya cantik deh, pakai banget malah.

      Begitulah Shella, dalam hidupnya selalu berpikir positif. Meskipun terkadang melebih-lebihkan.  Dan beginilah sifatku, mudah sekali percaya dengan apa yang dikatakan orang.
“Gila Shel sempurna banget, cocok banget buat calon mantenku,” Mataku nanar melihat Shella.
“Sadar Kak kita masih SMP, manten pala lu “, Shella sewot mengomel.
“Njirr.. namanya juga ngayal “.

       Bahagia membaur, pikiran ini tak berhenti berangan tentang Petri. Sesampainya dirumah aku langsung mengeluarkan ponsel Jadul pemberian ibu. Dengan bunyi ‘DAT DIT DUT’ seperti kentut, tanganku lihai mencatat nomor Petri. Belum sampai aku menekan tombol save , larut pikirku jauh berangan. Pertama, aku akan memerkenalkan siapa aku, hari selanjutnya ketemuan, pacaran, terus makan malam bersama keluarga, cocok seperti yang ada di TV.
       Test cest, tanpa lama aku langsung menelpon Petri. Jujur pulsaku memang banyak, jadi hal seperti sms tidak berlaku untukku. Bahkan jika kalian minta pulsa 1 juta, semua itu gampang . Ya karena aku tidak akan memberi 😊 .

       Tibalah titik permasalahan. Seperti yang sudah aku katakan tadi. Soal cinta aku payah, tidak bisa cara memulai dan mengakhiri. Cusss.. simak pada gambar dibawah ini.

        Meskipun perkenalan semalam berakhir dengan kegagalan. Tak ada sedikit pun rasa putus asa kurasakan . Sebuah inisiatif yang brilian muncul dikepala ini.  Tepat didepanku ada permen Kiss bertuliskan I love U. “Bagaimana jika aku memberi Petri pemen ini dengan selembar surat,” Lagi-lagi aku menjadi korban TV.

     Pukul setengah enam, tanganku mulai memegang sebuah bolpoint. Lima menit pikirku tak jemu menemukan kata yang tepat. Hingga akhirnya aku geram, sembari menjambak rambut setengah ikal milikku. Tringg .. inspirasi datang, teringat ketika SD. Aku belajar membuat puisi bersama Ibu guru 😊. Setidaknya butuh waktu sepuluh menit untuk menyelesaikan suratku . yapps dan beginilah jadinya.
Hey Petri, aku suka sama kamu. Kamu cantik dan baik.
Ini puisi buat kamu :
Engkau adalah permaisuriku
Wajahmu manis seperti keju
Baumu harum seperti bunga melati
Sunggulah aku cinta mati. Maukah kau jadi pacarku Petri ?

        Zttttt  pukul enam kurang 1 sekian detik, kutitipkan surat itu pada keponakanku. Tak lupa juga dengan permen Kiss bertuliskan I love U
“Shell ini surat buat Petri,” Pintaku pada Shella.
“ Surat? Perasaan baru tadi malam Kakak dapet nomornya,” Ujar Shella menatap surat yang kuberikan.
“Sudahlah Shell kasih saja buat Petri,” Jawabku meyakinkan Shella.

       Setelahnya, waktu begitu terasa lama. Satu detik seperti satu menit, satu menit seperti satu jam, dan seterusnya. Inilah efek menunggu, jantung berdetak pun tak lepas dari hitungan. Tak sabar rasanya menantikan jam pulang sekolah. Ingin sesegera mungkin aku menemui Shella, dengan harapan ada kabar gembira dari Petri.

  “OM TELOLET OM “ ,”OM TOILET OM”,”OM JOMBLO OM”, Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Hari yang suntuk saat harus menanti dengan pelajaran MTK yang membuat ku mati kutu.

        Singkat cerita, saat ini aku sudah berada dirumah Shella. “Shell gimana suratnya?,”. Tentu kalian sudah bisa menebak. Benar, hasilnya ZONK. Suratku seperti rosokan dibuang ditempat sampah. Setidaknya inilah penolakan Cinta pertamaku. Meskipun akhirnya Petri bisa kudapatkan dengan lebih dari dua kali penembakan 😊.  Namun, hanya bertahan kurang dari satu bulan masa percobaan. (Jomblo again).

         Pesan dari cerita ini. Cintailah seseorang dengan sewajarnya, jangan terlalu berharap besar melebihi kemampuan. Karena efeknya pasti seperti yang aku alamin, bingung mau ngelakuin apa. Kadang cinta yang besar bisa membawamu dalam jurang kebodohan, bahkan kehilangan jati diri. Tetap jadilah diri sendiri, jangan gunakan kebohongan untuk membodohi orang yang kalian sayangi . Dan buat kalian yang lagi dideketin seseorang, jangan nilai mereka setengah-setengah, karena sikapnya yang tidak bisa membuat kalian nyaman. Boleh jadi cintanya sangat besar sampai-sampai kena efek yang namanya GROGI.

SEMOGA BERMANFAAT !! FOLLOW,LIKE,COMENT,DAN SHARE YA
PERHATIAN : Tokoh-tokoh diatas namanya sudah disamarkan.
Cerita diangkat bedasarkan fakta dengan sedikit penambahan kata untuk efek drama.
Nantikan cerita selanjutnya, akan ada pengalaman dan motivasi yang lebih seru lagi pokoknya.

Comments

  1. Terngenes😂
    Ditunggu next partnya yaa. Semangaatt😂😄

    ReplyDelete
  2. Good job boy , next buat lebih gokil lagi .

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kak, tunggu part selanjutnya ya. Untuk update bisa follow akunku hehe

      Delete
  3. ��������������....siiiippp# lanjutiiinnnn true STORYnya....����

    ReplyDelete
  4. siap wkwkwk, bantu share juga ya kalo bisa :)

    ReplyDelete
  5. Wkwk.. Itu pengalaman pribadi ya.. Nggak true" amat gpp, kasih pemanis dikit😂😂

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Duh ceritanya.. ��
    Kenapa ga bikin cerita di wattpad aja, io ??

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Words of Journey #1 ( My Age was 20)

Filosofi " Lembar Kemilau Pencapaian Jokowi"

Phoem #1 (Kapal Tak Berhaluan)